Dua Ungkapan Rasa di Kerupuk Bonggol Pisang

Saya baru tahu ada manfaat bonggol pisang saat KKN di daerah Wagir kabupaten Malang. Saat itu kelompok KKN dibagi jadi beberapa kelompok. Saya kebingungan dengan program kerja pemanfaatan limbah atau barang yang tak terpakai karena teman saya berhalangan karena sakit.

Sampai saya curhat ke teman yang dulu satu sekolah dan dia mengusulkan ide membuat kerupuk dari bonggol pisang. Latar belakang membuat kerupuk bonggol pisang karena di desa KKN kami bonggol pohon pisang yang setelah ditebang dibiarkan membusuk dan dia juga bilang pengolahan ini pas buat dua orang dalam pengerjaannya. Saya setuju dan dia membantu saya mulai mencari bonggol pisang di pekarangan warga hingga memasak. Kerjasama kami berdua yang baik dan komunikasi yang lancar (mungkin dilandasi satu daerah satu sekolah) membuat program ini cepat selesai. Rasanya enak dan nutrisinya saya baca di internet tak kalah dengan camilan modern. Bahan mudah didapat, biaya pengolahan murah dan nutrisi cukup sesuai dengan desa KKN kami yang letaknya jauh dari perkotaan sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat dipenuhi secara mandiri.

Dari kerupuk bonggol pisang saya merasakan syukur karena punya teman yang siap membantu meskipun dia kerja ganda di kelompoknya dan kelompok saya. Saya berterima kasih padanya. Dari kerupuk bonggol pisang juga saya merasakan kebahagiaan karena bisa berbagi kepada penduduk untuk mencukupi nutrisi dari bonggol pisang.

Bonggol Pisang

DSC05935

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s